Monumen, Nasibmu Kini..

Selain terkenal sebagai Kota Pariwisata dan Kota Budaya, Yogyakarta menyimpan keindahan dan sejarah di sudut-sudut kotanya. Monumen sebagai salah satu bangunan yang didirikan sebagai penanda dan catatan sejarah bertebaran di Kota Gudeg ini. Ketika berkunjung, cobalah tengok di sudut tempat-tempat stategis. Barangkali di sanalah berdiri monumen yang nasibnya memilih bertahan dihantam cuaca atau bertahan dihantam zaman?

AffandiMonumen Affandi. Terletak di perempatan ring road Condong Catur. Monumen yang berbentuk patung sang maestro seni lukis tersebut diresmikan oleh Bupati Sleman, H. Ibnu Subiyanto pada tanggal 10 Agustus 2006. Taman yang menghiasi monumen tersebut tampak terawat. Meskipun tata letaknya strategis, namun keberadaannya banyak dihiraukan para pengendara. Bahkan gedung yang berada di belakang monumen lebih megah dan menarik dibanding monumen Affandi. Di mana monumen ini didirikan terdapat jalan yang bernama Jalan Affandi, Gejayan. Tidak jauh dari jalan tersebut terdapat museum dan kediaman Affandi yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto.

Taman PKKTaman PKK memiliki monumen yang berbentuk patung pak tani yang sedang memanggul pacul dan bu tani yang sedang menggendong hasil tani berdiri sejajar. Monumen tersebut diresmikan tanggal 26 Juni 1994 oleh Tim Lomba Tingkat Provinsi D. I. Y. Taman PKK terletak di jalan Moses, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Monumen tersebut masih terawat meskipun terdapat beberapa coretan di dinding belakang monumen. Maka tak heran jika banyak orang mengabaikan monumen tersebut meskipun tempatnya strategis tidaklah menjamin pengendara yang melewati mengenal Taman PKK.

monumen-kota-pendidikan.jpg

Monumen Jogja Kota Pendidikan. Berbentuk patung Ki Hadjar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Indonesia ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 16 Desember 2004. Monumen ini terletak di jalan Jend. Sudirman. Monumen tersebut berdiri gagah membelakangi salah satu gedung pusat penjualan buku di Yogyakarta. Beberapa tanaman hias di dalam pot ditata rapi menghiasi yang alhasil justru menutupi bagian bawah patung sehingga monumen tersebut kurang terlihat. Beberapa tulisan di monumen mulai memudar dan keterangan monumen tertutup oleh rimbunnya tanaman hias.

Monumen Tentara Keamanan Rakyat

Monumen Tentara Keamanan Rakyat. Diresmikan oleh Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Soesilo Soedarman, yang waktu itu menjabat Jenderal TNI (Purn) pada tanggal 31 Oktober 1993. Kemudian, monumen ini direnovasi kembali yang dipersembahan oleh Alumni Akademi Militer Angkatan Militer Angkatan 1948 dan 1949 / 1950 pada peringatan 50 tahun hari jadi Akademi Militer tanggal 31 Oktober 1995. Monumen tersebut terletak di halaman Museum Pusat TNI-AD Dharma Wiratama, berseberangan dengan Monumen Jogja Kota Pendidikan. Letaknya yang didalam menyulitkan para pengendara yang lewat mengenali bahwa terdapat monumen. Namun monumen tersebut sangat terawat dan pantas diberi apresiasi.

Monumen Sanapati

Monumen Sanapati. Didirikan sebagai tanda peringatan 50 tahun terbentuknya persandian Republik Indonesia di Yogyakarta. Diresmikan oleh Menteri Sekretaris Negara R. I, Moerdino pada 4 April 1996.Monumen Sanapati ini berupa patung tugu berbentuk segitiga, berujung lancip mirip piramida dengan tinggi 3 meter dan lebar 2,5 meter. Pembangunan Monumen Sanapati yang dilakukan selama 1 bulan berdasarkan desain Drs. Kasman. Bentuknya yang menarik terlihat menonjol di tengah taman yang berada di depan Gereja Kotabaru.

Monumen SO

Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Lebih dikenal dengan Monuemn Satu Maret didirikan untuk memperingati Serangan Umum 1 Maret ketika pejuang gerilya berhasil menguasai Yogyakarta selama enam jam. Peristiwa ini dikenal dengan enam jam di Yogya pimpinan Kolonel Soeharto. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Maret 1973. Terdiri dari dua bangunan, di bagian depan terdapat tiga patung tentara, di belakang terdapat reliaf perjuangan dan bagian atas terdapat patung gunungan. Letak Monumen Satu Maret sangat strategis yaitu berada di komplek Benteng Venderburg. Monumen tersebut memiliki halaman yang luas sehingga sering dimanfaatkan untuk berbagai event.Berbagai perawatan dilakukan untuk mempertahankan monumen, baik dari tata cahaya, perawatan taman, pagar, lantai keramik, dan perawatan monumen itu sendiri.

Monumen Teknologi

Lingkar Teknologi.Patung yang terbuat dari tembaga ini dipersembahkan untuk kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya. Patung tersebut dirancang oleh Kasman KS. Letaknya di depan gedung Bank Indonesia membuat para pejalan berpikir bahwa monumen tersebut adalah logo Bank Indonesia. Keterangan yang tersedia tertutup oleh rimbunnya tanaman hias. Sayangnya, ketika malam tiba tidak ada cahaya yang menonjolkan keberadaan monumen tersebut.

Monumen Serbuan Kota Baru

Monumen Serbuan Kotabaru. Monumen tersebut dibangun untuk memperingati puncak pengambil alihan kekuasaan dari pihak Jepang di Yogyakarta dengan serbuan bersenjata dan pertumpahan darah, yang dikenal sebagai pertempuran Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945, maka didirikan sebuah prasasti dengan nama para pahlawanyang gugurterukir di prasasti sebelah kiri yaitu: Sareh, Sadjiyono, Sabirin, Soenaryo, Soeroto, Soepadi, Soehodo, Soehartono, Trimo, dan Wardani. Serta nama pahlawan yang gugur terukir di prasasti sebelah kanan yaitu: Atmosukarto, Ahmad Djazuli, Achmad Zakir, Abu Bakar Ali, Djoemadi, Djuhar Nurhadi, Faridan M Noto (bekas So dan Tjo), Hadi Darsono, I Dewa Nyoman Oka (Inspektur Polisi), Kalipan, dan Ngasikan.Prasasti diresmikan oleh Gurbenur DIY, Hamengku Buwono IX. Prasasti ini terletak di jalan Wardani, Kotabaru. Beberapa warga sekitar merawat dengan baik prasasti yang menyimpan sejarah tersebut. Para warga menyadari pentingnya monumen yang menjadi penanda perjuangan para pahlawan yang telah gugur sehingga menjadi sejarah yang kelak dikenal oleh anak cucu.

Monumen Pal Putih

Taman Diorama Tugu Golong Gilig. Diresmikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, pada tanggal 5 Oktober 2015. Taman Diorama Tugu Golong Giligyang terletak di sebelah selatan Tugu Pal Putih atau lebih dikenal dengan nama Tugu Yogya ini terdapat lima unit informasi, yakni, Perjanjian Giyanti, Tugu Golong Gilig, Tugu Pal Putih Yogyakarta, Sumbu Imajiner, dan Sumbu Filosofi.Dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwana I di ujung Utara Sumbu Filosofi yang membentuk Kota Yogyakarta. Nama tersebut sesuai dengan bentuknya yang terdiri atas bentuk bola (golong) dan silinder (gilig) serta filosofinya yang melambangkan kebulatan tekad dan semangat “Manunggaling Kawula Gusti”. Rekontruksi bentuk Tugu Golong Gilig ini didasarkan pada gambar di dalam sebuah arsip dokumen yang saat ini disimpan di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta. Keberadaan Taman Diorama Tugu Golong Gilig menjadi salah satu sarana untuk melestarikan makna dan nilai penting bangunan cagar budaya, serta dapat memberikan penjelasan dan pengingat pada masyarakat tentang sejarah Tugu Yogya yang dulunya bernama Tugu Golong Gi.

Monumen merupakan karya bernilai sejarah yang bisa dinikmati semua orang. Monumen kokoh berdiri mencatat ingatan yang bisa saja hilang dari pikiran kita sehingga ketika mata kita tidak luput melihatnya kemudian mampu mengingat kembali dan melawan lupa. Dan, masih banyak lagi monumen lainnya yang tidak terurus bahkan dilupakan. Bagaimana dengan monumen yang kamu temukan?

 

(Salah satu karya jurnalistik saya sewaktu masih menjadi mahasiswa, Oktober 2015)

Iklan

Sahabat di Batas Waktu

Ada yang selalu hadir dalam setiap bahagia dan sedihmu. Ada pula yang tidak dan tetap mengirim doa dari jauh. Semua itu tetaplah menjadi sahabat-sahabatku..

Selain kehilangan, barangkali ada hal lain yang lebih membuat hati membiru. Datang serupa kehilangan yang tidak memiliki tumpu. Setengah membeku, serta membuatku bersikap lugu. Tetapi bukan itu yang perlu kau tahu. Kali ini kesedihan nyaris buntu. Dering notifikasi mengganggu heningku. Namun tidak mengalahkan kesibukan di kepalaku. Hilir mudik, ke sana kemari mencari makna kecewa yang kali ini lebih mengganggu.

Hanya diiringi oleh derap diam dan sunyi. Ditemani riuh senyap pada dini hari. Tertelungkup di kamar, sendiri. Telepon. Malam makin menyepi, sunyi kian menepi. Dan aku membiarkanmu mati.

Di ekor mata, lembap masih menguasai malamku. Aku tidak berniat berhenti karena hanya itu satu-satunya teman di kala diriku baru saja bertengkar dengan sahabatku. Mencoba menghapus pilu, namun marah enggan berlalu. Mencoba mengobati kecewa, namun lara sedang menyerbu. Salahkah diriku?

Sedetik kita jauh, aku sibuk berjalan mencari ilmu, sedangkan kamu sibuk mengumpulkan hasil peluh. Sesekali mengisi waktu bertemu yang menciptakan candu, meski sampai kapan bisa kembali merengkuh.

Tentang tukik menetas dari telur, membuka cangkang dan melihat bahwa kehidupan menyambut. Tukik berjalan seiring angin menuntun, menyentuh pantai, dan berenang bebas di laut biru. Ombak pantai pun menyapu jejak baru. Terus begitu. Pantai, sahabatnya yang ditinggalkan akan melewatkan detik waktu penuh sembilu, berharap tukik akan selalu mengingat di mana dia lahir dan kembali pada hangatnya pasir lembut. Hingga waktunya tiba, desir pantai berdesis riuh menatap siapa yang kembali dari dalam samudra biru. Kembali dari kemisteriusan dan kerahasiaan segara biru.

Atau tentang burung kecil yang melayang dalam dekapan sahabatnya, langit biru. Yang selalu tampil dengan apa adanya dan jujur. Tanpa mempersoalkan apakah hari ini akan cerah benderang atau mendung merenung. Burung kecil selalu beradu bersama angin di bawah langit biru, selalu.

Dari keduanya, di manakah nasib kita berada, sahabatku? Apakah berlaku hukum datang dan pergi, atau datang dan tetap kukuh?

Sebagian berpikir bahwa para sahabat dikenali sebagai mereka yang selalu ada di manapun dan kapan pun mampu. Di sisi Iain, barangkali sahabat bukan hanya yang selalu setia mendengarkan dan memahami riang serta letihmu. Yang biasa dilupakan adalah bagaimana sahabat juga para mereka yang merindukanmu dalam bisu. Sahabat pula yang sabar menanti rindu dan titik temu menyatu. Sahabat juga mereka yang setia mendengarkan segala cerita ketika dirimu dibelenggu waktu. Bukan melulu yang selalu ada, namun sahabat tentang siapa yang tidak kenal jemu.

Satu jam, dua jamku bergerak maju. Waktu menjadi berarti untuk diriku. Sahabat menjadi kado untuk diri sendiri, begitu yang kutahu.

Boleh tidak jika aku cemburu? Hanya untuk mengisi waktu yang tidak menentu ketika rindu masih membiru, sedangkan dirimu tetap enggan menemukan titik temu.

Masih adakah hakku untuk marah dan cemburu? Pada pesanmu yang tak kunjung datang di kesempatan kala dirimu tetap seorang dungu. Apakah ada kesempatan padaku untuk marah pada situasi kaku? Pada remeh-temeh yang mengelilingmu, melulu? Bolehkah aku cemburu pada segala sesuatu di hadapanmu, yang seharusnya itu aku?

Bolehkah aku memiliki rasa itu sebagai seorang sahabatmu? Wajarkah itu?

Jika memungkinkan tidak, barangkali kau hanya sebatas daun gugur dari ranting yang sayu. Kau hanya berita panas yang segera berlalu. Atau kau hanya memori lama dari sebuah televisi tua yang tidak memiliki remote kontrol di kamar ibumu.

Namun, sayangnya kau lebih dari sekedar itu.

Untukmu, aku rela menyisihkan waktu. Namamu merupakan kebiasaan menjadi deretan teratas di mana aku mencari tempat membuang pilu. Tempat di mana membagi suka, menyentuh asa, mengobati luka, bahkan menertawai masa lalu. Kau bisa menjadi utama maupun terakhir tanpa perlu kau menggerutu. Meski bukan engkau yang selalu mengisi lamunanku. Bukan pula engkau yang aku bawa sebagai bunga tidur di setiap lelap dan sadarku.

Tentu, semuanya berjalan dari mana di awal kita bertemu hingga merambah ke berbagai penjuru. Tentu, semuanya melalui reaksi yang tidak mengenal jeda, tidak mengenal tentu.

Bila waktu tidak ada, bila jarak mampu dilipat, mungkinkah ada degup jantung yang terus menderu. Mungkinkah masih ada alasan enteng untuk menghabiskan hati yang meragu untuk diburu.

Di manakah engkau berada sahabat lama yang ku tunggu? Aku berikan berita bahagia, namun telah lama tidak aku dengar kabar darimu, sahabat lamaku.

Mungkinkah kamu rindu di kala kita melewatkan panjangnya malam, menunggu pagi datang di antara hari Sabtu dan Minggu membicarakan tentang kehidupan, bicara tentang cinta dan mati, selalu. Aku rindu semua, saat kita mencaci dunia atau menertawai rindu. Mantan kekasih tidak memiliki waktu untuk kembali mencintai engkau, namun aku yakin akan ada kesempatan untuk engkau kembali menyeduh secangkir kopi syahdu. Bertemu kembali melanjutkan cerita pada lembaran-lembaran baru tentang rasa yang tak tentu.

Izinkan aku untuk marah, kecewa, atau cemburu. Izinkan aku melakukannya karena engkau memang sahabatku. Sebelum semuanya dilupakan dan berlalu. Sebelum semuanya hanya menjadi omong kosong dihadapanmu. Sebelum aku tenggelam ke dalam alunan akhir perjalananku.

Beri aku sedikit waktu untuk menuliskan gambaran rindu. Beri aku sedikit waktu lagi untuk melukiskan goresan rayu. Berikan jeda untuk hujan menunggu kemarau. Ketika cahaya matahari mulai membersihkan kelabu dan anak kembali ke pangkuan ibu.

Hingga, jawaban sederhana menyeruak dari pertanyaan-pertanyaan sendu.

Akan aku pesan gelisah panjang yang terukir di kedua matamu. Menggantikannya dengan lembayung senja kesukaanmu ketika terang dan malam berpadu. Aku akan menggantikan rasa sakitmu yang tidak pernah putus dengan segarnya arus sungai dari hulu.

Di dalam genggaman kita, hidup menjadi mahaguru. Meninggalkan setapak demi setapak jemu sambil terus membahu. Tanpa terus menerus merasa entah dan layu. Tanpa perlu mengkhawatirkan apakah esok masih adakah Iika-liku.

Jogja, 18 September 2017

 

Mencari Kebahagiaan dalam Diri Sendiri

Buat saya, menemukan kebahagiaan itu tidak perlu. Karena sejatinya, kebahagiaan mampu kita ciptakan. Tidak lain dan tidak bukan, diri kita sendirilah nakhoda kebahagiaan dalam kehidupan. Setidaknya begitu kesimpulan dari khotbah Ajahn Brahm, Guru Spiritual jarak jauh saya.

Mengenal Ajahn Brahm dari sebuah buku yang disodorkan seorang teman kepada saya. saya sudah berkali-kali meliat dan membaca judul bukunya yang terdiri dari banyak seri di toko-toko buku. Namun akhirnya saya mau membaca setelah teman saya memaksa untuk membaca. Dan, wow! Ada juga manusia sesabar, sesederhana, sebahagia, dan segila Ajahn! Saya pernah mendengar tentang Dalai Lama, ternyata di biksu Ajahn merupakan mantan muridnya.

Oke, kembali ke awal. Buku Ajahn Brahm pertama yang saya baca ialah seri Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Namun, dalam tulisan ini saya tidak mau membahas buku tersebut. Melainkan buku terbaru karya Ajahn.

Judulnya Kindfulness, sebuah buku terapi kebahagiaan dan cerita-cerita penyejuk hati. Saya mendapatkan buku tersebut secara gratis. Ya, beruntung sekali saya. Buku tersebut merupakan oleh-oleh ketika saya pergi ke Jakarta pada Desember 2016 lalu. Buku Kindfulness merupakan suvenir ketika saya menghadiri sebuah acara reality show di salah satu stasiun tv swasta (perlukah saya menyebutkannya? Hehehe) Meskipun saya tidak memiliki seri buku Ajahn yang lain, dan hanya memiliki Kindfulness, namun saya senang bisa memilikinya salah satu. Secara gratis pula!

Buku yang di dalamnya terdapat lima judul bab ini tentu saja tidak beda jauh dari buku-buku Ajahn sebelumnya. Bab-bab di dalam buku Ajahn merupakan urutan tahapan yang harus dilakukan untuk mencapai suatu tujuan.

Ajahn Brahm, sebagai seorang biksu Buddha (agama yang sangat saya kagumi) tentu sangat ahli dalam hal ketenangan dan kebahagiaan. Hal tersebutlah yang nyatanya sangat ditekankan Ajahn dalam bukunya. Tidak perlu jauh-jauh mencari ketenangan dan kebahagiaan, karena semuanya ada dalam diri kita.

Gaya bahasa Ajahn sungguh tidak asing bagi saya. Terasa dekat, menyenangkan, nyaman, hangat, dan menggelikan. Tidak jarang saya selalu tertawa ketika membaca buku Kindfulness. Bukan hanya menertawakan ceritanya saja, tetapi juga menertawakan diri sendiri yang sering disinggung oleh Ajahn melalui tuturannya.

Iya, ya? Kok saya bisa begitu tidak merasakannya? Begituah Ajahn. Mampu menggelitik pengikut dan pembaca setia bukunya. Pun tak lupa banyak menampar untuk menyadarkan hal-hal kecil di sekitar kita.

Buku Kindfulness merupakan buku terjemahan yang bisa menjadi koleksi rak bukumu. Saya yakin, kamu tidak akan bosan dengan buku tersebut. Ketika membaca, kamu akan dibuat penasaran dan akan terus membaca terus menerus. Dan jangan lupa, terapkan prinsip-prinsip positif yang dibagikan Ajahn secara gratis. Silahkan segera datang ke toko buku. Dan bawa pulang secuil kebahagiaanmu J

Informasi Buku

KindfulnessJudul               : Kindfulness

Penulis             : Ajahn Brahm

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun              : 2016

Tebal               : 185 halaman

 

Menghirup Aroma Kopi di Buku Filosofi Kopi-nya Dee

Segala sesuatu di luar dugaan, entah dari segi rasa atau apapun, bisa saja didapatkan dengan sederhana saja. Kira-kira begitulah pikiran saya ketika selesai membaca cerita pendek pertama dalam Filosofi Kopi, kumpulan cerita dan prosa satu dekade-nya Dee.

Bukan buku yang tebal. Tergolong bacaan ringan karena hanya berupa kumpulan cerita pendek dan prosa. Saya mendapatkan buku Filosofi Kopi (Filkop) karya Dewi Lestari dari hadiah seorang teman saat saya ulang tahun pada tahun 2012. Saya senang bisa memiliki salah satu karya Dee tersebut. Terlebih karena teman saya mengenal diriku sebagai seorang yang menyukai kopi dan membaca.

Judul buku Filosofi Kopi diambil dari salah satu judul cerpen. Bercerita tentang Ben dan Jody, dua sahabat yang membuka kedai kopi. Hambatan demi hambatan mereka lalui untuk mempertahankan kedai kopi mereka. Hingga suatu saat mereka berdua mendapati kopi terenak dan tidak terduga yang mengubah hidup mereka. Tentu untuk saat ini, Filkop sudah dikenal banyak kalangan karena ceritanya diangkat menjadi film. Tentunya, cerpen tersebut menjadi cerpen favorit saya dalam buku kumcer ini.

Selain Filosofi Kopi, ada pula 18 cerpen dan prosa lain seperti Mencari Herman, Surat yang Tak Pernah Sampai (favorit juga!), Salju Gurun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Sikat Gigi, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Sepotong Kue Kuning, Diam, Cuaca, Lara Lana, Lilin Merah, Spasi, Cetak Biru, Buddha Bar, dan Rico de Coro.

Surat yang Tak Pernah Sampai menjadi cerpen kedua favorit saya. Saya rasa cerpen tersebut bercerita tentang rasa yang tidak terbalas. Menyedihkan sekali! Cerita tersebut bercerita tentang diri sendiri, berkomentar untuk diri sendiri. Ketika membacanya, saya merasa saya berbicara dengan diri sendiri. Saya suka paragraf yang dirangkai Dee untuk menutup bagian ini.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta kepadamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

Kemudian ada pula prosa berjudul Kunci Hati. Mengagumkan. Prosa ini juga mengantar saya untuk berdiskusi dengan diri sendiri. Atau hanya saya yang merasakan begitu? Secara gamblang, Dee menuturkan tentang diri sendiri yang menjadi kunci segalanya. Saya pun percaya bahwa segala sesuatu tidak pernah luput dari keputusan diri sendiri. Begitu pun tentang hati, jika intinya adalah pasti diri sendiri yang memiliki, lalu siapa lagi? Hatimu tentu bukan milik orang lain, bukan? Tetaplah menjadi milik sendiri. Bukan siapa lagi.

Dee memaparkan tentang hakikat usia pada Jembatan Zaman. Tentang makna kebebasan pada Kuda Liar. Pada Spasi, Dee bercerita tanpa paksaan, mengalir lembut namun juga tidak membuat terlena. Hingga ditutup dengan Rico de Coro, Dee mengajak saya untuk masuk dalam alam bawah sadar. Begitu kan ya?

Lebih lengkapnya memang tidak sempurna jika kamu hanya membaca tulisan saya ini. Akan lebih terasa bebas dan lengkap kalau kamu bisa memilikinya sendiri. Saya rasa semakin bertambah tahun, buku filkop mengalami perubahan, baik dari segi bahasa dan desain sampul. Segeralah bawa pulang bukumu!

Tidak hanya buku, kini nama Filosofi Kopi juga nampang sebagai judul film dan kedai kopi sungguhan di Jakarta dan Yogyakarta!

Ngomong-ngomong, adakah yang sudah menonton film Filosofi Kopi dan menikmati nikmatnya kopi tiwus di kedai kopi Filkop? Zummy..

Informasi Buku

filkopJudul               : Filosofi Kopi

Penulis             : Dewi Lestari (Dee)

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun              : 2012

Tebal               : 139 halaman

Merekatkan Asa pada Sekelebat Bayang

Kenyataan menerkamku tak bersisa. Detik-detik jam di tanganku seolah menjadi dentuman keras yang memekakan telinga. Diriku diseret-seret waktu yang tak terhingga. Ku kira akan mendapat banyak berkat, namun tak sesuai asa.

Tiba di suatu senja muda yang dengan lugu mengetuk pintu rumahmu. Bersama akal yang berseru dan hasrat yang penuh menyeluruh. Kau sambut aku tanpa peduli kelabu mulai merajut pada tirai cakrawala. Tanpa peduli betapa nuraniku sudah jemu menelusuri sepanjang jalan, menghitung berapa banyak memoriku bergelantungan pada debu-debu jalanan. Menyesakkan. Namun, aku terus memaksa diri untuk menemuimu meski tak jua aku jumpai alasan yang tepat. Hingga ku jumpai senyummu di ruang tengah, akalku menyembunyikan maksud perjumpaan kita.

Angin sore sepoi membelai kakiku melangkah gontai. Telapak kakiku dirujam dinginnya lantai keramik yang seolah memunculkan berbagai bentuk manusia yang selalu aku hadirkan di dalam kamarku. Manusia-manusia imaji yang selalu aku ciptakan setiap harinya di dalam kamar yang luasnya tak seberapa. Tak terkecuali kamu.

Akalku melayang jauh. Membaca tembok-tembok kamar yang menjadi saksi tak ingkar. Bagaimana setiap harinya aku selalu berusaha menghadirkan bayang-bayangmu, yang sialnya tidak pernah mau beranjak pergi. Upayaku menghadirkan seluk belukmu yang terus menyelisik keheningan malamku. Mengusik mimpiku. Hingga pagi menjadi siksaan bagiku yang mendamba bunga tidur yang begitu realis. Ketika cahaya pagi mengintip di tirai jendela, aku tahu bayangmu mulai mengikis. Saat itu pula upayaku menciptakan imajimu dalam tembok kamar meski tetap samar.

Membagi senyumku pada tembok, membagi tawaku pada tembok, membagi sedihku pada tembok, membagi gelisahku pada tembok. Tembok kamar yang tidak pernah luput menemaniku mengikat sunyi. Sayangnya, kamarku bisa saja semesta. Tempat aku bisa berbaring di mana saja tanpa terusir.

Kakiku pasrah menopang raga dengan akal yang entah ke mana. Senyum hari kemarin sudah aku simpan di rumah. Senyum hari ini sedang aku coba ukir dengan mencuil udara-udara di setiap sudut rumahmu. Udara yang mampu menghidupkan sekaligus udara yang mampu membunuh. Dirasa hanya raga saja yang ku bawa, hati ku sembunyikan pada televisi tua tanpa remote kontrol. Seolah kasih tidak lagi ada, ditelan bumi, menjadi satu debu di relung hati. Sedangkan yang indah dan manis mulai meninggalkan bumi dan berpindah ke bulan. Tetapi, wajahmu sore itu menyangsikannya. Sejenak menghindari kedua mata yang tentu akan membuatku kalah. Kedua mata yang mencuri perhatianku. Kedua mata sebagai televisi tua pemenang hatiku. Bagaimana jadinya jika aku tidak memiliki kedua matanya?

Dengan mimik muka riang bercampur tatapan mata yang sinis, kau sambut aku di dalam ruangan. Tidak perlu rapi-rapi jika masing-masing dari kita telah memiliki catatan hidup yang jelas amburadul. Tidak perlu dirapikan jika memang niatan kita akan bergumul, saling mengacaukan diri sendiri. Tidak perlu dirapikan jika memang bukan niat kita untuk saling menata satu sama lain.

Barangkali kikuk yang menyebabkan kita cukup lama berdiam diri. Hingga aku akhirnya sengaja melontarkan beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Atau jawabanmu sesungguhnya tidak terlalu aku inginkan. Karena memang bukan itu niatku untuk bertemu denganmu.

Kau merengek manja. Andai kau tahu, hatiku berdesir setiap mendengarmu berkata. Sungguh sudah memuncak anganku untuk memilikimu saat itu juga. Namun, menunggu sudah menjadi teman hidupku, caraku berdamai dengan waktu dan sabar. Kau dan aku bercakap-cakap, membicarakan hal-hal klise yang menumpuk di pelupuk mata. Tentu, kau masih bersabar menanti itu. Hampir habis akalku membiarkanmu agar terus bercerita. Sedangkan kau terus saja merengek manja. Tenanglah kekasih, akan aku berikan apa yang sudah menjadi inginmu pula.

Ada rasa yang tak terhingga menancap jauh ke dalam. Agaknya kau tumbuhkan harapan baru pada puan yang sudah lama tak menemukan tepian dalam mengarungi luasnya samudra kehidupan. Anganku, kau dapat membawaku tersesat sejauh-jauhnya, hingga aku menyerah dan memilih menetap. Anganku, kau dapat membuatku jatuh sedalam-dalamnya, hingga aku tidak kuat memanjat dan merasa nyaman di dalam sana.

Aku ingin menjadi harapan yang selalu meringkuk dalam genggamanmu. Kadang ingin menjadi nafas panjang teman perjalanan hidupmu. Aku ingin menjadi jarum tato yang menjelajahi pori-pori kulitmu. Kadang ingin menjadi kabut tipis yang mesra membelai tubuhmu. Aku ingin menjadi kertas-kertas tua yang tak bosan kau bolak-balik pada buku-buku di pikiranmu. Aku ingin menjadi bulan dan bintang yang senantiasa setia pada sunyi di penghujung malam, masuk tersenyum pada setiap mimpimu. Menjadi udara, air, bumi, api yang tak hentinya menjadi ruangmu berinteraksi. Aku ingin menjadi alam liar dalam setiap lamunanmu.

Aku ingin menjadi diam dan gerak dalam lenganmu. Menjadi bunyi dan sunyi dalam suaramu. Aku ingin menjadi puisi di setiap jengkal kehidupanmu.

Aku tidak bisa menghentikan waktu tatkala perlahan tanganmu mulai menjelajahi tubuhku. Aku ingin segera menghentikan waktu agar kau dan aku tidak perlu gelisah lagi untuk memberi jeda pada waktu yang sombong. Namun aku tak punya kuasa untuk menghentikan waktu yang terus mengejar kita agar menyudahi.

Kau peluk tubuhku dari belakang. Lidahmu menjelajahi setiap jengkal leherku. Aku suka caramu memperlakukanku. Aku suka caramu memulai dengan sabarmu. Aku suka kamu tidak tergesa-gesa seolah ingin mengerjai waktu yang terlalu cepat berlalu. Melumat semua yang ada di hadapanmu. Kini kau memiliki kuasa di atas tubuhku. Meskipun secara sadar, kita memiliki pilihan untuk terus berlanjut atau tidak. Dan kau tetap merengek manja.

Aku pun tidak ingin melewatkan seluk beluk tubuhmu yang sudah lama ku damba. Kau mengeluh, kian aku merengkuh. Kau merajam, kian aku ingin menerkam. Tatapanmu mengisyaratkan, kian aku ingin melampiaskan.

Malam menjemput senja ketika hembusan nafas kita menyatu lebih cepat daripada detik kala. Detak jantung kita kian menderu, memecah kesunyian. Aku ingin cepat menyelesaikan namun tidak rela menyudahi hari ini. Foto kedua orang tuamu menatap diam di tembok berdiri di samping kita. Menatap mesra walau terkesan dingin karena tidak bergerak.

Sayang, tak aku lihat riang dalam raut mukamu. Tidak ku lihat bahagia menari dalam teduh kedua matamu. Tak ku lihat senyum merekah dalam rona pipimu. Ada apa gerangan?

Lekas kau menghentikannya sebelum aku benar-benar memeluk tubuhmu erat. Tubuhmu sudah enggan ketika aku belum merasa penuh. Kau memalingkan muka bahkan ketika mataku belum terbiasa dengan gelapnya kamarmu. Perlahan, nafas kita kembali seperti biasa. Kemudian diam.

Dan kau mengaku.

Kau sedang memiliki sebuah hubungan.

Terakhir kali aku melihat langit, dia sudah ditutupi tirai kelabu sedangkan hujan tak kunjung tumpah di bumi. Namun penyataanmu bagai halilintar yang membelah keheningan. Menyadarkan akal. Menggugah mimpi. Rasanya hancur sudah semua harapanku. Dipatahkan tanpa ada ucapan maaf yang mampu menebusnya.

Masih dalam gelap, aku mencoba berkata. Namun, seolah aksara menjauh dari dalam diriku. Sedangkan dadaku sesak oleh tanda tanya. Isi kepalaku seperti sekelebat bayangan yang sulit aku tangkap maknanya. Aku tidak mampu berbuat di atas kebodohanku sendiri. Atau kebodohan kita?

Aku masih saja diam ketika kau bertanya dan mulai mengutuk diri. Sungguh, aku ingin marah namun terlalu lelah dan muak membayangkan realita selanjutnya. Kau terus saja bertanya dan aku diam. Dalam kamusku diam bisa saja berarti marah. Namun, aku rasa ini lebih dari marah. Kecewa. Lebih mengerikan dari kesedihan. Dan entah. Apakah ini hukum semesta? Atau Tuhan sedang bercanda dengan umat-Nya?

Siapakah di sini yang paling kejam?

Bagaimana aku ingat kekejaman kecil dari orang yang dilakukan di atas ku dan melupakan kekejaman yang ku lakukan di atas perempuan lain yang begitu besar?

Siapakah di sini yang paling kejam?

Aku yang memaksa datang ke kehidupanmu tanpa perlu menjawab semua tanda tanya, sedangkan kau terus menarikku agar tenggelam ke dalam alunan perjalananmu.

Siapakah di sini yang paling kejam?

Yang berkata akan membuatku jatuh dan menanggungnya. Hingga saat itu tiba, yang diterima hanya luka. Ketika di hadapanmu disodorkan pilihan tanpa kau tahu harus menggenggam yang mana. Haruskah aku sendiri yang menanggung cinta sendiri sampai mati? Seberapa lama lagi akan terlantar, merasa sakit, melihat dirimu bersama yang lain?

Siapakah di sini yang paling kejam?

Aku menulis ini di tengah gelombang ratapan, kerendahan diri, memohon belas kasihan dari padamu. Dan menunggu balasan apa yang pantas aku terima. Kita sama-sama miskin. Tidak begitu bahagia, tidak begitu berlimpah harta. Tentu saja, masing-masing bisa memilih hidup yang lebih senang. Hidup dengan sederet saudara yang banyak namun tetap saja berujung pada kehidupan yang sunyi.

Siapakah di sini yang paling kejam?

Siapa yang sudah menghalangi harapan tinggi seorang puan tetapi akhirnya terbuang jauh ke alam mimpi. Hilang asa, hingga akhirnya hanya tertawa di hadapan umum dan menangis di balik tirai.

Tidak. Aku tidak kejam. Aku hanya turut memainkan peran semesta. Bukankah kau juga meminta bahwa jatuhkan aku dalam inginmu, kemudian apakah perlu dihapuskan dan dilupakan begitu saja? Diganti dengan pertemanan yang kekal? Haruskah aku memegang teguh sumpah di atas perbuatanmu sendiri?

Kau bukan masa laluku. Kau memang bukan kekasihku. Tetapi kau seorang yang menjadi kunci perempuan lain. Dan sebagai perempuan aku mengutuk diriku sendiri yang secara tidak langsung melukai perempuan lain. Percuma nafasku hidup dari sebatas merah di bibir, sedangkan lakuku menggores luka sama yang juga menjadi merah di bibirku. Sungguh kejam orang yang lahir dari rahim melukai sendiri empunya rahim semesta. Seberapa teguhnya aku memegang perasaanku, sebagaimana teguhnya aku melindungi dia yang ku sebut perempuan.

Mungkinkah juga aku melepasmu meski tak sempat juga aku memilikimu. Dari sebuah rasa yang tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas, aku pula yang akan menanggungnya sendiri. Dan selagi aku masih hidup, ingatkan lagi jika aku pernah mencintaimu.

Amat besar harapanku untuk memulai bersamamu, supaya mimpi yang selama ini aku rekatkan sekian lamanya bisa terjadi. Agar jika ada kesalahanku terhadapmu bisa aku tebus. Tetapi memang ada cita-cita yang sebatas cita-cita karena kau sendiri sudah menutup pintu di hadapan mukaku. Aku haram memasukinya. Jika memang kau mau menuang dendam, segala sakitmu yang dulu yang sudah lama bersarang di benakmu.

Jika mungkin kau melepas tali harapanku, padahal pada tali itu kau juga menggantung harapanmu sendiri. Sungguh, siksaan ini menjadi siksaan kita berdua. Karena di dalam jiwaku ada satu kekayaan besar yang sangat kau perlukan. Dan kekayaan itu tidak pernah lagi muncul di permukaan untuk menyapa kepada siapa pun, walaupun kepada yang sudah-sudah.

Hanya dua yang aku harapkan, pertama adalah kedatanganmu kembali menjemputku. Kedua, menyimpanmu rapat hingga menunggu maut menjemput. Kau yang mulai terpatri dalam doaku ketika diriku menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan kuasa semesta. Dan pastikan, kau menjadi seseorang yang akan ku kenang dalam setiap kau beranjak memejamkan mata dan membuka mata.

Kau tetap saja bertanya. Dan aku lelah mencari jawaban yang tepat. Kata-kata berputar di kepalaku. Ledakan bom bersahutan di benakku. Sekilas aku hanya menginginkan rengkuhan. Namun, aku tahu bahwa kau tetap menghormatiku. Atau memang sudah enggan bersentuhan lagi.

Aku berusaha menghubungi sahabatku. Tidak ada jawaban. Sedangkan kau juga sibuk dengan telepon genggammu. Entah mencari kesibukan atau memang ada keperluan. Aku berupaya menghubungi yang lain. Tetap tidak ada jawaban. Aku ingin mengungkapkannya kepadamu. Tapi aku tahu apa hanya akan ada sia-sia belaka. Aku benci jika memang harus jujur. Aku benci jika kejujuran tersebut justru akan menghancurkanku dan membuatmu berpaling jauh. Sungguh, perlukah ada orang lain ketika kau sedang mensyukuri hadirnya seseorang di hadapanmu?

Waktu tidak mau tahu. Jarum jamnya terus berputar mengejek keheningan yang cukup lama memeluk kita. Keheningan yang menciptakan jarak dan ruang baru di antara kau dan aku. Keheningan yang tidak ingin kita ciptakan pula. Jam dinding yang sedari tadi menggantung di atas pintu seakan tertawa melihat kesunyian kita. Rasanya ingin memaki diri sendiri yang semakin tidak berkutik di hadapanmu. Kita sama-sama tidak tahu harus bagaimana lagi.

Aku mengumpulkan keberanian namun nihil. Berharap hujan turun, menahanmu dan menahanku. Menjawab gundah. Merampungkan gelisah. Kita pecah menjadi kepingan. Dan, aku pulang dengan hujan yang berkumpul di ujung mataku. Hendak menandai kenangan raksasa pada jalan semu.

Aku bersedih, karena aku tahu apa yang tidak akan pernah bisa aku miliki..

Dengar, hai rasa, janganlah mati membeku pada balas yang tak menentu. Hingga berbuah rindu yang membiru di kubur waktu, enggan meninggalkan nyaman jatuh di pelukmu. Baiknya kau dan aku percaya, doa-doa mengalahkan jarak dan waktu.

ᴠ.ᴧ

 28 Mei 2017.

 

menulis itu…

menulis

Ada yang pernah berpikir, menulis itu apa? Apakah hanya sekedar goresan tinta di atas kertas? Atau kata-kata yang diramu untuk membentuk makna baru?

Kapan orang butuh untuk menulis? Kapan orang perlu untuk menulis? Apakah penting, apakah ada gunanya. Apakah dan apakah.

Sore ini pukul 16.27 WIB, saya duduk sendiri di beranda rumah. Berbekal laptop dan secangkir air putih yang tinggal setengah. Setengah terisi atau setengah kosong, kembali pada pandangan masing-masing.

Sekilas saya bertanya pada diri sendiri perihal menulis. Sebelumnya saya baru saja menyelesaikan tiga tulisan untuk deadline pekerjaan. Kemudian, secara tiba-tiba pertanyaan itu muncul, mengapa kamu menulis? Apakah harus menulis untuk sekedar hobi, iseng, atau untuk kepentingan lainnya.

Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah memiliki jawaban, jauh sebelum hari ini tiba. Hari di mana pertanyaan itu kembali menyeruak di sela-sela waktu saya mulai menyepelekan manfaat menulis jurnal. Jujur, akhir-akhir ini saya minim menulis apalagi membaca. Dan, hal tersebut berhasil membuat saya merasa miskin!

Awal mula saya suka menulis adalah ketika saya duduk di sekolah dasar. Entah ide dari mana, saya mulai menulis di buku tulis, yang saat itu saya sengaja saya sisihkan untuk jadi bagian saksi dari catatan harian saya. Banyak buku kosong saya pakai untuk menulis. Saya bedakan buku catatan harian dengan catatan imajinasi saya. Total semuanya ada tiga buku catatan harian dan satu setengah buku catatan imajinasi. Namun, semunanya rampung secara tiba-tiba ketika ada peristiwa.

Suatu hari, salah satu guru saya mengajak para murid untuk berkreasi melalui cerita. Katanya, sebuah cerita bisa diterbitkan dan dibaca banyak orang. Seketika itu juga, saya antusias untuk turut serta. Saya tahu bahwa saat itu kepercayaan diri yang dimiliki jauh dari baik. Saya pemalu dan merasa tidak mampu menyaingi teman-teman saya. Hingga akhirnya, saya memberanikan diri untuk sekedar bercerita kepada Ibu Guru IPA -yang saat itu menjadi guruu favotirku- bahwa aku memiliki catatan imajinasi sebanyak yang dimiliki. Guruku memberikan nasihat, kegemaranmu bagus Vero, lanjutkan ya kamu bisa menerbitkan ceritamu, katanya. Tetapi saya hanya berhenti di situ saja.

Goblok. Iya. Barangkali itu kesempatan emas satu-satunya yang saya miliki. Tetapi saya tidak yakin. Saya merasa itu bukan saatnya. Toh, apa nilai cerita anak sekolah dasar di hadapan banyak mata pembaca di dunia?

Selanjutnya, kegemaran saya menulis lanjut ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kali ini saya mencoba cara yang berbeda. Dan entah berapa orang melakukan hal yang sama. Saya menulis chat-chat dari pacar saya -yang sekarang sudah menajdi mantan- dalam beberapa buku. Total ada sekitar enam buku lebih saya mencatat. Toh, akhirnya catatan-catatan itu saya bakar habis.

Kemudian saya lanjut menulis karena di rasa perlu. Bukan karena saya masuk kuliah jurusan sastra dan bahasa. Bisa dikata, saya jatuh cinta dengan kata-kata. Jika kata si Mansyur, saya menulis karena sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana mana sekaligus. Ya, mungkin begitu. Dengan tulisan, berbagai pikiran dan perasaan bisa diletakkan di mana saja. Tidak kenal batas waktu dan ruang, tidak kenal batas aturan apapun. Si Mansyur menjadi laki-laki kurang ajar pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan kekuatan kata-kata. Saya mengenal dia ketika memacari mantan terindah saya. Bahkan sampai sekarang, saya masih mencintai keduanya (karya Mansyur dan mantan saya).

Di dalam tulisan, kita bisa menciptakan senja yang selalu basah melalui segala pikiran.

Saya pernah bercerita kepada salah satu teman ngopi –rangkap teman ngrasani mantan-, bahwa sesungguhnya saya tidak butuh muluk-muluk untuk dianggap sebagai siapa, apakah penting atau tidak. Saya hanya butuh dianggap ada. Dianggap saya ada untuk mereka meskipun mereka sama sekali tidak memikirkan saya sekali. Sederhana. Tetapi rumit. Itu gambaran diri si Mansyur, dan juga saya.

Tulisan bisa merangkap pengalaman siapa saja, yang tidak terlihat, yang tidak terdengar, yang tidak tersentuh, yang tidak terjamah, tidak terpikirkan. Bersama tulisan kita bisa berjalan-jalan kemana saja, menciptakan hal-hal yang tidak mungkin, dan meninggalkan catatan untuk dibaca nanti, agar bisa dikenang kembali.

Bahkan dengan tulisan, kita bisa menciptakan kepekaan yang sudah mulai punah. Dan, dengan tulisan saya ingin bahwa saya dianggap ada. Bahkan ketika saya sudah tiada. Seperti kata Bapak Sastrawan Indonesia, Pramoedya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Selamat menulis dan berpetualangan!

Tembok Tak Ingkar

Tembok yang kita tinggalkan

Pada jumpa kita yang pertama

Masih tetap saja disana

Berdiri tegak menantang

 

Orang – orang masih saja melintasinya

Seperti kita di muka

Pada tonggak pertemuan tanpa batas yang pertama

Jadi tembok peringatan dan saksi mata

 

Orang – orang datang dan pergi

Pada tembok terjadi

Dia tetap berdiri

 

Tembok yang tak pernah ingkar

Tetap menanti saat perjumpaan kembali

 

.vro.

menjelang pagi di bulan Mei, 2015